Dimas baru tiga bulan kerja kantoran, gajinya pas-pasan buat bayar kos dan makan, tapi keinginan punya penghasilan tambahan sudah menggebu sejak minggu pertama gajian. Dia pengin jualan online, mungkin dropship atau jasa desain kecil-kecilan, apa saja yang bisa nambah pemasukan tanpa harus keluar modal besar.
Masalahnya satu, dia trauma sama urusan cicilan digital sejak dulu sempat kebablasan pakai aplikasi kredit waktu masih kuliah, sampai tagihannya numpuk dan bikin dia stres tiap tanggal jatuh tempo.
Karena trauma itu, langkah pertama yang dia ambil sebelum mulai side hustle adalah beresin semua urusan finansial lama, termasuk akun aplikasi kredit yang masih menempel sejak zaman mahasiswa. Dia sempat kepikiran ide nekat, kalau langsung hapus akun Kredivo, apakah tunggakan yang masih tersisa bakal otomatis lenyap begitu saja? Pertanyaan ini yang bikin dia cari tahu lebih dalam sebelum benar-benar bertindak, dan jawabannya ternyata jauh dari yang dia bayangkan semula.
Hapus Akun tidak Lantas Utang Terhapuskan
Anggapan bahwa hapus akun Kredivo bisa menghapuskan utang itu keliru besar, dan celakanya banyak first jobber seangkatan Dimas yang percaya begitu saja tanpa cek fakta dulu. Logikanya mirip orang yang berpikir kalau merobek surat tagihan listrik, otomatis dia bebas dari kewajiban bayar. Kenyataannya, robekan kertas itu cuma menghilangkan bukti fisik, bukan menghapus catatan di sistem penyedia layanan yang tetap mencatat kewajiban itu ada.
Sistem finansial digital bekerja dengan prinsip serupa. Selama masih ada tunggakan berjalan, permintaan penutupan akun otomatis ditolak, karena syarat utamanya memang harus lunas dulu tanpa sisa kewajiban apa pun. Dimas akhirnya paham, niat awalnya buat kabur dari cicilan lewat jalur pintas itu justru bisa berujung runyam, karena riwayat kredit macetnya tetap tercatat di sistem meski aplikasinya sudah dihapus dari HP.
Kenapa Sekadar Uninstall Aplikasi Tidak Menyelesaikan Apa-Apa
Kesalahan paling umum yang Dimas hampir lakukan adalah menyamakan uninstall aplikasi dengan penutupan akun secara resmi. Padahal dua tindakan itu berbeda jauh secara sistem. Menghapus aplikasi cuma menghilangkan ikon dari layar HP, sementara data akun, riwayat transaksi, dan status tagihan tetap tersimpan rapi di server penyedia layanan sampai ada permintaan penutupan resmi yang diverifikasi.
Untungnya Dimas nggak asal ambil keputusan gegabah. Dia cek dulu ke sumber resmi, dan ternyata proses penutupan yang benar wajib melalui Customer Service, bukan sekadar swipe kiri buang aplikasi dari HP. Setelah paham logika ini, dia jadi lebih tenang menghadapi tunggakan lamanya, karena tahu persis apa yang harus dia lakukan sebelum benar-benar bisa lepas dari akun tersebut.
Memahami Bunga Berjalan Biar Tidak Panik Duluan
Salah satu hal yang bikin Dimas takut duluan adalah istilah bunga berjalan yang sering muncul di notifikasi tagihan. Dia sempat mengira itu semacam denda misterius yang terus bertambah tanpa bisa dikendalikan.
Setelah ditelusuri, ternyata konsepnya sederhana saja, mirip air keran yang menetes ke ember kosong. Selama keran belum dimatikan, air terus menetes dan volumenya makin banyak seiring waktu. Begitu keran ditutup alias pokok utangnya dilunasi, tetesan air berhenti dan volumenya tidak bertambah lagi.
Bunga berjalan bekerja dengan cara serupa. Selama tunggakan belum dibayar, bunga terus terhitung mengikuti waktu yang berjalan, dan itu bukan bentuk hukuman aneh, melainkan konsekuensi wajar dari fasilitas pinjam dulu bayar belakangan.
Begitu Dimas paham logika sesederhana ini, rasa takutnya berkurang jauh, karena dia sadar satu-satunya cara menghentikan tetesan itu adalah segera melunasi pokok tagihan, bukan menghindar dengan cara menghapus aplikasi begitu saja.
Langkah yang Dimas Tempuh Sampai Selasai
Setelah paham duduk perkaranya, Dimas langsung cicil pelan-pelan tunggakan lamanya sampai benar-benar lunas tanpa sisa. Begitu status tagihan bersih, dia hubungi Customer Service resmi di nomor 0804-1-573348, sampaikan niatnya untuk menutup akun, lalu ikuti proses verifikasi yang diminta petugas. Prosesnya memakan waktu sekitar tiga hari kerja sejak dia menghubungi CS sampai akunnya benar-benar dinonaktifkan sistem.
Satu hal yang perlu diingat, keputusan hapus akun Kredivo ini sifatnya permanen dan tidak bisa dibatalkan di kemudian hari. Kalau nanti Dimas berubah pikiran dan butuh fasilitas serupa lagi, dia harus daftar dari nol seperti pengguna baru, bukan tinggal login pakai akun lama yang sudah punya rekam jejak. Baginya, itu risiko yang sudah dia pertimbangkan matang-matang demi memulai lembaran baru yang lebih disiplin soal keuangan.
Kenapa Dimas Akhirnya Tetap Pilih Kredivo PayLater buat Modal Side Hustle
Menariknya, setelah akun lama resmi ditutup dan urusan lunas semua, Dimas justru mendaftar ulang beberapa bulan kemudian, tapi kali ini dengan pendekatan yang jauh lebih terencana. Alasannya sederhana, Kredivo PayLater tetap dia perlukan buat modal awal jualan online, terutama buat beli stok bahan baku produk kecil-kecilan yang dia rintis sebagai side hustle. Bedanya, sekarang dia selalu hitung dulu kemampuan bayar sebelum transaksi, bukan asal klik seperti dulu.
Yang bikin dia lebih tenang, sistemnya transparan soal biaya sejak awal, dan opsi tenor 1 bulan 0% Bunga & Admin cukup membantu buat kebutuhan modal jangka pendek yang sifatnya bukan konsumtif.
Dari pengalaman pahitnya dulu, Dimas belajar satu hal penting, fasilitas kredit digital sebenarnya alat bantu yang netral, tergantung siapa yang pegang kendali. Kalau dipakai dengan benar dan bukan sekadar ikut-ikutan tren belanja, side hustle yang dia impikan justru bisa berjalan lebih lancar tanpa harus mengulang drama tunggakan yang pernah bikin dia hampir salah langkah waktu mau hapus akun Kredivo di masa lalu.